Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP)
     
 
PROYEK >YAKKUM ENGLISH VERSION English Version
 
YAKKUM: Bengkel Kerja Prostetik
 
Proyek
Cerita-cerita klien YAKKUM

Ada sejumlah klien yang dibantu oleh orang-orang muda dari YAKKUM

Cerita kasus
I Ketut Sariya
Desa Sekardadi, kecamatan Kintamani
Kabupaten Bangli

YAKKUM membangun sebuah kamar mandi khusus untuk orang cacat buat Ketut pada awal tahun 2006. Inilah sejarah keterlibatan YAKKUM dengan Ketut.

Sampai bulan Juli 1997 (usia 17 tahun) Ketut Sariya hidup normal sebagai remaja Bali bersekolah di SMA tetapi sebuah sepeda motor telah mengakhiri hidup “normal” nya. Dia tersadar di Rumah Sakit Umum tebesar di Bali mendapati tulang punggungnya patah dan dia benar-benar lumpuh dan tidak merasakan apa-apa dari pinggang ke bawah. Setelah 27 hari di Rumah Sakit keluarganya membawanya pulang karena sebagai seorang petani sederhana, mereka tidak mampu melanjutkan membiayai biaya rumah sakit.

Sejak hari itu Ketut Sariya berbaring terperangkap di ruangannya yang sepi dan tetap terus di sana selama 6 tahun sampai YAKKUM Bali mengetahui keadaannya dan mengunjungi dia bulan Februari 2003. Kondisinya sangat buruk. Dia sangat tertekan, dia dan kasurnya ditutupi oleh lalat dan berbau tak sedap. Ketut Sariya ditinggal sendirian setiap hari. Ayahnya telah meninggal saat ibunya mengandung dia dan ibunya kemudian menikah kembali dan pindah. Bibi dan pamannya dengan siapa dia tinggal dan seorang kakak laki-lakinya bekerja di sawah dan hanya kembali pada malam hari. Hari-harinya sangat panjang dan sepi bagi Ketut dengan hanya ditemani oleh sebuah TV. Dia tidak punya apapun untuk dibaca dan sedikit yang mengunjunginya.

Sejak itu YAKKUM Bali telah memberikan sebuah Perjanjian Bantuan yang bagus. Pertama-tama ada sebuah kursi roda yang mana untuk pertama kalinya dalam 6 tahun, memungkinkan dia untuk melihat sinar matahari dan rumah-rumah disekitarnya. Orang-orang medis merawat perasaan tertekannya, memberikan terapi fisio, membantu membangun kondisinya yang terabaikan dan memberikan pengarahan serta konseling kepada keluarganya. Bulan Desember 2004 Ketut pergi ke Yogyakarta, Jawa Tengah untuk menghadiri sebuah kursus pelatihan dalam bidang elektronik dan perbaikan radio. Dia menangis setelah meninggalkan rumahnya karena dia melihat hal-hal yang dia tidak pernah harapkan untuk bisa dia lihat lagi. Di Yogyakarta dia menghabiskan lebih banyak waktu di kamar mandi, menyirami air ke sekujur tubuhnya dan menggunakan toilet bergaya orang-orang Barat.

Sekarang Ketut sudah pulang ke rumah lagi. Kesehatannya secara umumnya membaik, dia mendapat sedikit uang dengan memperbaiki radio dan dia sekarang merasa mempunyai masa depan.

Pesan dari I Ketut Sariya:

“Saya lahir di desa terpencil. Ayah saya meninggal sebelum saya lahir dan ibu saya menikah lagi tak lama kemudian. Karena saya tidak mendapat kasih saying dan bimbingan dari orang tua saya, saya tumbuh sebagai anak brandal dan pemarah.

Kecelakaan motorlah yang menyebabkan saya menjadi lumpuh total. Saya merasa frustasi, putus harapan dan tidak mempunyai semangat hidup, karena saya sadar saya tidak akan pernah bisa bekerja. Enam tahun berikutnya, saya diam di ruangan yang sama seperti binatang dalam sangkar. Saya marah, kecewa dan benci hidup sendiri. Tidak ada teman atau siapapun yang menemani saya. Hidup saya seperti di neraka, penuh dengan perlakuan tidak adil dan penderitaan. Sebelum kecelakaan, saya biasa bertindak ceroboh dan menyia-nyiakan hidup saya. Sekarang saya telah belajar bahwa hidup penuh arti dan sangat berharga.

Melalui bantuan dari YAKKUM Bali, saya menerima kursi roda pertama saya pada bulan April 2003 dan sebuah jalur khusus kursi roda (ramp), yang memberi saya jalan masuk ke halaman sekitar rumah saya. Saya mendapatkan kembali sebagian dari kemandirian saya, karena saya belajar sendiri bergerak masuk dan keluar rumah di atas kursi roda saya.

Teman-teman saya, para kaum cacat, mohon jangan putus harapan, anggaplah ini sebagai suatu tantangan dalam hidup kita. Jalani hidupmu dengan bahagia dan selalu berpikir positif. Kita boleh merasa tak berguna, malu dan kurang percaya diri ketika bertemu orang lain….karena kita cacat. Tetapi, bukan kita “tak mampu”. Dengan semangat dan kekuatan kita bisa melakukan apapun yang kita ingin lakukan! Sebagai buktinya banyak teman-teman kita yang cacat bisa bersekolah, bepergian, bekerja dan mempunyai sebuah keluarga.

Semua ini, saya tulis setelah “terpenjara” di ruangan saya selama 6 tahun. Tangan saya masih terasa kaku dan sangat sulit untuk memulai. Tetapi saya akan bekerja untuk diri saya sendiri dan hidup saya karena sekarang ada harapan di sana.

Bangli, Februari 2004

.

I Komang Deddy of Karangasem. Deddy terlahir dengan sebuah kaki yang tak sempurna (defective foot), tetapi tidak kehilangan kemauan untuk bergerak. Setelah YAKKUM menemukan dia, dia menjalani operasi dan memakai sebuah kaki palsu. Dia adalah seorang penenun kain tradisional songket (menggunakan teknik tenun “overshot”) pakaian yang dipakai orang Bali pada upacara keagamaan seperti upacara perkawinan dan potong gigi. Dia dan istrinya bekerja bergantian selain menjaga & merawat anak laki-laki mereka yang berumur 4 tahun. Mereka tinggal di rumah saudara mereka, tetapi karena keterbatasan keluarga, mereka terpaksa tinggal, masak, tidur dan bekerja di satu ruangan kecil.

Ketut Jaba of Karangasem. Ketut baru saja akan menikah. Dua hari sebelum hari pernikahannya, dia ditabrak sebuah mobil dan kehilangan kakinya serta tunangannya (yang meninggalkan dia). Sekarang dia berusia 30 tahun, dia tinggal dengan bibi neneknya di sebuah pondok kecil di pinggiran kebun salak.Di photo ini terlihat dia menggunakan kaki palsu untuk pertama kalinya dalam hidupnya—dia sangat senang karena bisa berjalan sekitar halaman tanpa tongkat penopangnya! Sebelum Bom Bali, Ketut membuat mainan lembut (soft toys) untuk toko YAKKUM di Nusa Dua Galleria (sekarang tutup).

Ketut Nesa ditabrak oleh sopir yang tidak bertanggung jawab dan kakinya hancur. Kakinya digips dan tiga hari berikutnya sudah menjadi busuk. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter dan ahli pengobatan tradisional, diputuskan bahwa kakinya harus diamputasi. Dia berumur 17 tahun. Satu tahun berikutnya dia mendapat sebuah kaki palsu dari Jawa. Dia lulus SMA dan kemudian pergi ke Solo dan Yogyakarta, Jawa untuk belajar bagaimana membuat kaki palsu. Sekarang hanya dialah ahli membuat kaki palsu yang ada di Bali dan akan segera menjadi seorang guru/pelatih pembuat kaki palsu.

Ni Nengah Widiasih and I Gede Swantaka of Karangasem. Saudara kakak beradik ini tumbuh di sebuah desa kecil di Bali bagian Timur dimana kemiskinan adalah hal biasa. Nengah tidak pernah bersekolah dan benar-benar buta huruf. Saudara laki-lakinya Gede bersekolah dan saat itu duduk di kelas 6 pada saat ditemukan YAKKUM. Latra bertemu mereka tahun 2002, menawari mereka menjalani operasi di Jogya tetapi kepala dusun melarang mereka pergi, mengatakan bahwa mereka telah terkena “santet” (ilmu hitam) bahwa tidak ada yang patut dilakukan untuk mereka. Latra kembali mengunjungi mereka lima kali untuk meyakinkan mereka untuk mengijinkan anak-anak mereka pergi ke Jawa. Nengah, karena dia tidak pernah bersekolah, dia ditemani oleh orang tuanya pergi ke Jawa. Dia menjalani sebuah operasi, terapi fisio dan dipasangkan sebuah penyangga (brace). Lalu dia bersekolah di YAKKUM dan belajar membaca dan menulis. Enam bulan kemudian, Gede pergi ke Jawa setelah dia menyelesaikan Sekolah Dasarnya dan menjalani operasi. Dia juga bersekolah di sekolah YAKKUM. Bulan April 2004, mereka berdua kembali ke Bali untuk mengikuti upacara kremasi keluarga dan keluarganya menolak membiarkan mereka kembali ke Jawa. Sekarang mereka berdua bersekolah di sebuah sekolah khusus di Jmbaran. Nengah duduk di kelas 4 dan Gede di kelas 7. Nengah berusia 14 tahun dan Gede berusia 16 tahun.

I Putu Karang of Singaraja melewati waktu selama 9 tahun di sebuah ruangan sampai pada tahun 2004 ketika YAKKUM Bali menemukannya. Dia seorang “paraplegic”  (kena lumpuh) karena sebuah kecelakaan lalu lintas yang dia alami saat dia berusia 11 tahun dan punggungnya patah. Ketika dia keluar dari ruangannya menggunakan sebuah kursi roda, seorang teman lamanya saat SD berkata, “Hey Putu, kamu masih hidup? Saya pikir kamu sudah meninggal! Saat itulah pertama kalinya dia melihat matahari dalam kurun waktu 9 tahun.

Ni Nengah Wati. Wanita ini, terkena polio saat masih anak-anak (sekarang dia berusia 30 tahun) adalah seorang wanita “mapan”. Dia tidak bisa membaca dan menulis dan dia pergi ke YAKKUM Jogya, dimana dia dilatih membuat mainan “soft”. Dia kembali ke Bali dan bisa membuat banyak mainan sehingga dia bisa membeli TV, membeli tanah, membangun rumah dan membentuk sebuah kehidupan yang nyaman untuk dirinya sendiri. Dia belajar sendiri membaca dan berbicara tidak hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa Jawa. Salah satu mainan YAKKUM yang paling laris adalah mainan huruf abjad yang digantung di dinding. Ketika Wati membuat mainan itu, dia menempatkan abjad-abjadnya tidak beraturan karena dia tidak bisa membaca.


 
 How To Donate How To Donate
HOME     OUR VISION     PROJECTS     NEWS     ENDORSEMENTS     DONATING     WHO WE ARE     CONTACT US     LINKS

Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) - Tel: +62 361 759544 Fax: +62 361 755024 Email: info@ykip.org