Dalang,
I Made Sidia berkonsultasi dengan ayahnya, dalang ternama
dan penari dari Bona, Gianyar, I Made Sija untuk memastikan
bahwa cerita yang akan dikembangkan paling tepat untuk
menyampaikan berbagai pesan mengenai PTSD. Akhirnya
dipilihlah lakon “Siwa Tattwa”. Cerita ini
menceritakan tentang Dewa Siwa yang telah mengutuk istrinya
untuk hidup sebagai raksasi di bumi. Dewa Siwa mulai
merindukan istrinya dan turun ke bumi untuk mencarinya.
Selama Dewa Siwa masih berwujud Dewa mereka berdua tidak
dapat bertemu sehingga Dewa Siwa mengubah diri menjadi
Raksasa Kala Ludra. Mereka berpelukan dan dalam suasana
kegembiraannya itu berkumpul jugalah semua raksasa lainnya
di dunia untuk menciptakan malapetaka. Bahkan para hewan
dirasuki kekuatan jahat sehingga mengamuk. Akibatnya
seluruh dunia menjadi tidak seimbang.
Melihat perubahan Dewa Siwa ini, para Dewa lain di
kayangan menjadi cemas. Mereka akhirnya memutuskan untuk
turun ke Bumi dengan wujud yang berbeda: Dewa Brahma
menjadi penari topeng merah (Jauk), Dewa Wisnu sebagai
penari topeng putih (Telek), Dewa Iswara menjadi Barong
dan Dewa Bayu menjadi seorang Dalang. Tujuan mereka
adalah untuk mengalihkan perhatian para raksasa dengan
keindahan dari penampilan mereka dan menyadarkan Dewa
Siwa untuk kembali ke tempatnya di kayangan bersama
dengan istrinya Dewi Uma. Ternyata mereka berhasil.
Ada beberapa tambahan dalam cerita ini. Salah satunya
adalah bahwa Bhuta Kala atau kekuatan jahat, ada dalam
diri kita semua, tetapi tergantung bagaimana kita mengendalikannya.
Bhuta Kala diwujudkan melalui tingkah laku yang tidak
baik seperti seperti mabuk-mabukan, keserakahan, keseganan
untuk peduli terhadap sesama dan kekerasan (termasuk
meledakkan bom). Tambahan lainnya adalah bahwa seni
merupakan salah satu sarana yang dapat menyembuhkan
jiwa dan merupakan komponen penting dalam kebudayaan
Bali. Judul dari pertunjukkan Wayang Kulit ini adalah
“Dasa Nama Kerta” yang
berarti “10 Nama Kedamaian”
dan mengarah kepada elemen-elemen yang membentuk alam
semesta. Dengan memberdayakan, memelihara dan mengontrol
kesepuluh elemen ini kita dapat hidup dalam kerukunan.
Kesepuluh elemen tersebut adalah bumi, udara, api, air,
tumbuh-tumbuhan, ikan, unggas, binatang, manusia dan
Tuhan. Hal ini merupakan sebuah peringatan bahwa manusia
perlu menghargai bumi dan segala isinya yang diberikan
kepadanya.
I
Made Sidia, dalang yang hasil karyanya terkenal dengan
cuplikan komentar politik, membentuk tim yang terdiri
dari orang-orang yang sangat kreatif dan pertunjukannya
berdasarkan improvisasi Wayang Kulit Tradisional dalam
berbagai variasi. Pada awalnya, iringan musik dalam
produksi Sidia mengikutsertakan suling, gamelan dan
keyboard. Selanjutnya, daripada menggunakan lampu minyak
tradisional (blancong) untuk menerangi layar dan wayang,
Sidia melakukan komputerisasi terhadap pertunjukkannya
dengan memanggil bantuan koleganya, Dewa Made Darmawan
untuk menciptakan gambar-gambar dalam bentuk Power Point.
Selanjutnya, layar diperlebar menjadi 3 meter. Secara
tradisional, para dalang duduk dengan menyilangkan kaki
di belakang layar yang tidak lebih lebar dari rentangan
tangan mereka. Ini berarti mereka dapat mempertunjukkan
wayang-wayang itu dari seberang layar tanpatanpa berlu
berkisut dari posisi duduknya. Layar Lebar Sidia ini
memaksa para dalang untuk meluncur pada saat menampilkan
wayang-wayang mereka dari satu sisi ke sisi lainnya.
Untuk memudahkan gerakan para dalang, Sidia menyiapkan
skateboards untuk mereka.
Nyoman Sira, saudara laki-laki Sidia, membuat beberapa
wayang baru dari plastik, sehingga menambahkan elemen
baru terhadap pertunjukkan tersebut. Wayang buatan Sira
bergerak dengan indahnya dan beberapa dari boneka tersebut
dibuat dalam bentuk 3 dimensi yang dapat dengan mudah
berubah bentuk hanya dengan memutar pergelangan tangan
ke arah lainnya. Misal seorang wanita tua dapat berubah
bentuk menjadi nenek sihir dan tokoh favorit penonton
adalah seorang laki-laki yang mengendari sepeda raksasa,
dengan roda yang benar-benar berputar dikejar-kejar
oleh monyet.
Setelah lewat dua minggu, kami mem- pertunjukkan wayang
tersebut kepada anggota YKIP dan dr. Robert Reverger
(psikiater). Sidia akhirnya mempertunjukkan Wayang tersebut
dalam bahasa Indonesia karena kami berpendapat dengan
bahasa Indonesia kami dapat menjangkau penonton yang
lebih luas. Semua orang setuju bahwa pertunjukan ini
akan lebih baik jika disampaikan dalam bahasa aslinya,
bahasa Bali. Dr. Robert Reverger memberikan beberapa
masukkan yang bagus mengenai PTSD untuk disampaikan
melalui pertunjukkan, dan berhasil digabungkan dengan
baik oleh Sidia.
Pertunjukkan pertama yang dilakukan ketika ada acara
di Pura Dalem di Desa Bona (Desa tempat tinggal Sidia).
Malam itu sungguh malam yang menggembirakan; satu kesulitan
teknis yang dihadapi adalah layar tidak dapat dipasang
cukup tinggi sehingga Sidia terpaksa harus memukul dalang
yang lain dengan wayang yang dia pegang agar kepala
mereka tetap di bawah layar. Biasanya seorang dalang
hanya mengendalikan 2 wayang saja (Sidia mengisi suara
semua wayang) tetapi dalam pertunjukkan wayang ini,
ada 5 dalang lain yang ikut memainkan wayang-wayang
itu sementara Sidia bercerita.
Joe Yaggi dari Jungle Run Productions mensyuting pertunjukkan
yang diadakan di salah satu bale banjar di Desa Bona.
Durasi tayang yang kami janjikan dengan Bali TV adalah
27 menit. Mencoba untuk membatasi seseorang yang bercerita
sama artinya dengan mencoba untuk menghentikan air sungai
yang mengalir. Sidia berusaha dengan segala kemampuannya;
akan tetapi hasilnya menunjukkan 35 menit. Sehingga
hasilnya kembali ke ruangan editing untuk beberapa hari,
untuk menentukan bagian mana yang dapat di potong. Kemudian
kami menterjemahkannya dan memberinya text dalam bahasa
Indonesia untuk acara TV dan penonton SMU.
Kami juga memasang iklan di Bali TV dengan durasi 15
detik and 60 detik untuk iklan di radio. |