Langkah pertama adalah mengurus Surat
Ijin dari Departemen Pendidikan dan Kantor Bupati Badung.
Proses ini memakan waktu beberapa hari. Setelah ijin
diperoleh, Nyoman Suma Artha dan staffnya melakukan
pendekatan ke 4 SMU (3 SMU Negeri & 1 SMU swasta)
di Daerah Kuta:
SMA 2 in Ungasan, Nusa Dua (20 Desember)
SMA 1 in Kuta (15 Januari)
SMA Soverdi in Kuta (17 Januari)
SMA 3 in Dalung (25 Januari)
Pertunjukan
pertama di Ungasan merupakan suatu pelajaran untuk kami
semua. Pemutaran film berlangsung di laboratorium yang
sempit dan tidak bisa digelapkan. Kami belum mempunyai
proyektor sehingga harus menyewa. Kami tidak memikirkan
mengenai pentingnya pengeras suara, perkiraan kami proyektor
tersebut sudah cukup memadai, ternyata tidak memadai
untuk pementasan dengan penonton berjumlah banyak. Sekolah
mengijinkan kami memakai milik mereka tapi pada awal
pertunjukan proyektor itu rusak. Brosur belum tersedia
(bertepatan dengan lebaran dan banyak percetakan yang
tutup selama 2 minggu)
Untuk pemutaran film selanjutnya, kuesioner dibuat
untuk mengetahui apabila seseorang menderita PTSD. Kuesioner
ini dibagikan pada saat pemutaran film dan langsung
dikumpulkan. Dr. Made Nyandra memberikan tanya-jawab
mengenai pertunjukan wayang dan pertanyaan-pertanyaan
kegiatan lapangan. Terlihat bahwa lebih dari 50 persen
anak perempuan menderita PTSD (bisa dilihat pada laporan
terlampir dari Artha).
Setiap pemutaran film dihadiri oleh kira-kira 300 pelajar.
Kami menerima beberapa permintaan dari SMA 1 dan SMA
2 di Denpasar untuk membawa video tersebut ke sekolah
mereka dan saya yakin kami akan mendapat lebih banyak
permintaan lagi setelah ini.
Proyektor, layar dan alat DVD sudah didatangkan dan
dalam keadaan baik untuk dipergunakan. Kami perlu membeli
kabel tambahan karena yang tersedia digunakan untuk
sambungan proyektor ke komputer, bukan dari proyektor
ke alat DVD.
Pementasan di Banjar: Sehubungan dengan dana yang kurang
mencukupi, kami belum mengadakan pertunjukan ke banjar-banjar
di Kuta. Kami telah melakukan estimasi yang kurang cermat
terhadap biaya-biaya tertentu. Bagaimanapun, kami telah
melakukan satu pertunjukan di Kuta pada tanggal 12 Desember
2002 untuk “Peace and Unity Concert” yang
dihadiri oleh 6000 orang. Suatu kejutan untuk Sidia,
disaat para Kuta mania yang tidak begitu tertarik dengan
pertunjukan tradisional, terutama Wayang ternyata mereka
tetap tak beranjak dari hujan dan memberikan sambutan
luar biasa untuknya.
Nadya Lurie, seorang warga asing perancang pakaian
yang tinggal di Bali mensponsori dua pertunjukan langsung
berikutnya. Yang pertama di Banjar Kutuh, Ubud tanggal
22 Desember (dihadiri oleh kira-kira 200 orang) dan
yang ke dua di Banjar Dalem Kusumasari di desa Kepaon
tanggal 22 Januari 2003. Lima dari korban bomb yang
meninggal adalah dari Kepaon. Hanya ada kira-kira 100
orang di Kepaon yang hadir karena hujan badai pada malam
itu tapi kepala desa memohon kepada kami untuk kembali
lagi bulan Pebruari untuk banjar lainnya di sekelingnya.
Dari kuesioner yang kami terima kembali di Kepaon, terlihat
bahwa hampir 100% masyarakat tersebut menderita PTSD
atau bentuk-bentuk depresi lainnya.
Versi anak-anak telah dipertunjukkan di tiga tempat:
Banjar Lemukih, Buleleng
Br. Dukuh, Kepaon village, Badung
STSI kampus, Denpasar
The DVD version was shown in 30 SDs (fifth and sixth
grades), SMPs and SMAs throughout the island. The venues
were chosen based on the home locality of the bomb victims.
|