Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP)   Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP)
     
 
BERITA > Wayang Skateboard ENGLISH VERSION Bahasa Indonesia
 
Seorang Psikiater membuka pertunjukan wayang dengan menyampaikan informasi mengenai PTSD (sindrom pos trauma), kemudian penonton diminta untuk tinggal setelah pertunjukkan, bertatap muka dengan dalang dan mengetahui cara kerja ilustrasi komputer dan skateboard, serta berbincang-bincang dengan para dokter apabila mereka menghendakinya.
 
Wayang Skateboard

by Rucina Ballinger

Ketika bomb meledak di Kuta bulan Oktober lalu, reaksi-reaksi yang nampak adalah kesedihan, ketakutan dan keterkejutan. Setelah beberapa minggu pertama pertolongan darurat, adalah waktu yang tepat untuk mencoba dan mencari jalan bagaimana membantu penyembuhan korban di semua tingkat : emosional, fisik, mental, spiritual dan ekonomi. Usaha-usaha yang dilakukan Tim Bali Relief sangat luar biasa, bantuan dalam bentuk obat, alat kesehatan dan uang berdatangan ke Pulau Kecil ini. Setelah semua keriuhan dan kemeriahan konser gratis dengan bintang-bintang tenar, beberapa dari kita memikirkan apalagi yang dapat kita dilakukan.

Cody Schwaiko dari YKIP (Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi, yang telah sejak awal membantu para korban) bertanya kepada saya jika saya mengetahui seorang Dalang yang dapat menciptakan sebuah cerita tentang PTSD yang nantinya dapat dibawakan ke desa-desa terutama di dan sekitar Kuta.

Melalui Wayang, informasi tentang PTSD dibahas dengan cara sederhana, yang mudah dimengerti. Video Pertunjukkan Wayang berdurasi setengah jam (berjudul Dasa Nama Kerta atau 10 Nama Kedamaian) telah ditayangkan di TVRI tanggal 9 Januari 2003 (sebuah acara interaktif dengan menampilkan psikiater dr. Robert Reverger dan dalang Sidia) dan tanggal 16-17 Januari ditayangkan di Bali TV. Pada bulan Desember 2002 video pertunjukkan tersebut dibawa ke empat SMU di Kuta, dengan bantuan seorang psikiater yang membagikan kuesioner serta brosur tentang PTSD untuk menilai para siswa yang mungkin memiliki gejala-gejala PTSD. Penyuluhan Gratis yang dibiayai oleh YKIP dan IMC (International Medical Corps.) akan disediakan untuk mereka.

The showPertunjukkan langsung pertama kali dilaksanakan di Kuta tanggal 12 December disambut dengan hangat (tanggapan ini berasal dari orang-orang yang sebenarnya kurang tertarik dengan kesenian tradisional). Pertunjukkan selanjutnya dilaksanakan di Ubud dan Bona dan di Kepaon pada tanggal 22 Januari 2003. Beberapa pengemudi taxi yang tinggal di daerah Kepaon, Denpasar adalah korban meninggal dalam tragedi bom tersebut. Pertunjukan diawali dengan Seorang psikiater memperkenalkan wayang dan menyampaikan informasi tentang PTSD dan kemudian penonton diundang untuk tinggal setelah pertunjukkan, untuk bertemu dengan dalang dan melihat bagaimana cara kerja simulasi komputer danskateboard, serta berbincang dengan para dokter jika mereka mau.

Tambahan konsultansi dan penyuluhan psikologi tersedia untuk masyarakat Bali dan wargaIndonesia di IMC. Jika Anda mengetahui siapa saja yang memerlukan bantuan dari penyuluhan ini, mereka dapat menghubungi dr. Nyoman Sura Oka di IMC untuk mengatur janji : (62 361) 228 589.

Saya telah menghubungi I Made Sidia di Desa Bona karena Sidia telah banyak berkolaborasi (seperti Wayang Listrik; Penculikan Sita) dan Sidia memiliki apresiasi politik yang tajam dalam setiap pertunjukkannya. Ini merupakan pilihan yang tepat. Sidia mendedikasikan diri untuk pertunjukkan itu (dia hanya memiliki waktu 2 minggu untuk menyelesaikan semua persiapannya) dengan semangat dan entusiasme yang tinggimembentukl tim yang terdiri dari orang-orang yang kreatif. Dia memutuskan untuk menggunakan kelompok pemain musik ayahnya (Made Sija, seorang dalang yang terkenal dan penari topeng) dan ditambah dengan 2 pemain – gender 16 kunci (Made Subandi dan Gusti Putu Sudarta) sejumlah suling dan gamelan serta sebuah keyboard (dimainkan oleh Ary Wijaya).

Puppets and KidsAda 5 dalang lain (ditambah 2 anak kecil yang memegang boneka wayang dan menyalakan kembang api) selain Sidia, meskipun suara yang diperdengarkan hanya suaranya. Sidia duduk beberapa meter di belakang layar untuk memainkan wayang yang ingin ditampilkan besar di layar. Ini merupakan suatu prestasi buat dia untuk memainkan dan memastikan dalang lainnya membuka mulut boneka wayang pada waktu yang tepat. Terkadang, Sidia menggunakan wayang yang akan dia mainkan untuk memukul salah satu dalang sebagai isyarat untuk gilirannya.

Nyoman Sira, saudara laki-laki Sidia telah membuat beberapa boneka wayang baru dari plastik untuk pertunjukkan ini. Wayang-wayang tersebut bergerak dengan indahnya dan cukup fleksibel. Dia membuat beberapa wayang 3 dimensi dengan sangat kreatif, yang dapat berubah bentuk hanya dengan memutar pergelangan tangannya ke arah yang lain seperti seorang wanita tua yang berubah menjadi nenek sihir. Boneka Wayang favorit pemirsa adalah laki-laki diatas motor besar yang dikejar oleh seekor monyet (roda dari motor itu benar-benar berputar).

Gambar-gambar dari komputer berupa gambar biasa maupun video klip. Hal ini cukup sederhana tapi cukup mengejutkan masyarakat yang terbiasa dengan wayang tradisional.

Wayang KulitCerita yang dipilih oleh Sidia adalah Dasa Nama Kerta atau lebih dikenal dengan Siwa Tattwa. Sang Hyang Siwa telah membuang istrinya ke bumi untuk tinggal di pemakaman sebagai raksasi. Tetapi dia merindukan istrinya dan meninggalkan kayangan untuk mencariya, karena hawa nafsu telah menguasainya. Di bumi, Sang Hyang Siwa berubah menjadi Raksasa Kala Ludra. Dia bertemu dengan raksasa lainnya dan mereka mulai menghancurkan dunia. Melihat semua ini, 4 Dewa Utama lainnya memutuskan untuk turun ke bumi untuk mencari Sang Hyang Siwa dan mengajaknya kembali ke tempatnya semula. Dewa Wisnu menjadi penari topeng Telek, Dewa Brahma menjadi penari topeng merah (Topeng Bang), Dewa Iswara menjadi dalang dan Sang yang Bayu menjadi Barong (Makluk berkaki empat yang secara mitologi masih ada hubungan dengan tarian singa dari Cina). Selama pementasan mereka, para raksasa (termasuk Siwa yang menjadi Kala Ludra) terpesona dengan keindahan penampilan para Dewa itu dan melupakan untuk menyiksa satu sama lain. Kala Ludra teringat dengan tugas dia yang sesungguhnya sebagai pelindung kayangan dan kembali kesana. Sebelum dia kembali, dia mengingatkan manusia bahwa mereka harus memberikan sesaji kepada Buta Kala (Roh Chaos) sehingga upacara mereka tidak akan di ganggu. Setiap upacara keagamaan harus mempunyai elemen seni di dalamnya, seperti musik gamelan, tarian, wayang, lagu kidung (lagu pujian) ataupun hanya bunyi lonceng pendeta.

Dalam pertunjukkan wayang ini, kita diingatkan bahwa roh jahat tinggal di dalam setiap orang dan kita harus menghadapi dan menalahkan roh jahat tersebut. Kita menemui orang-orang yang telah kehilangan orang yang dicintainya dalam ledakkan bom 12 Oktober 2002. Seorang ibu yang telah kehilangan anak tunggalnya yang juga merupakan sumber satu-satunya pendapatan keluarga, balita yang ibunya terbunuh, petugas keamanan yang gagah yang kehilangan minatnya terhadap istri dan hidupnya, seorang laki-laki yang terus menerus sakit sakit kepala dan sakit perut. Merdah dan Twalen (2 wayang pelawak – pembantu) mendengarkan cerita sedih orang-orang tersebut dan menghiburnya . Dengan meminjamkan telinga yang penuh perhatian, kita dapat membantu memulihkan keyakinan masyarakat, mengembalikan keinginan mereka untuk terus hidup.

Pada bagian akhir dari pertunjukkan wayang tersebut, Twalen dan Merdah menyampaikan tentang 10 elemen dari kedamaian, yaitu bumi, air, api, angin, tumbuh-tumbuhan, binatang, ikan, burung, manusia dan Tuhan. Pesan dari pertunjukkan ini adalah segala kekuatan atau keberadaan patut dihargai, dipelihara dan dikontrol; jika seseorang hanya mencintai dan memelihara tanpa di kendalikan, maka segala sesuatu dapat lepas kendali, seperti bencana banjir, kebakaran hutan ataupun peledakkan bom.

Untuk informsi lebih lanjut mengenai proyek ini, hubungi Rucina Ballinger : rucina@indo.net.id

 
HALAMAN UTAMA     BERITA     INFO PROYEK     SPONSOR     YKIP    

Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) - Tel: +62 361 759544 Fax: +62 361 755024 Email: info@ykip.org