Segera setelah meledaknya bom di
Kuta pada 12 Oktober 2002, bantuan dalam bentuk obat-obatan
dan uang membanjiri Pulau Bali. Tetapi setelah beberapa
minggu sejak pertolongan darurat itu, penduduk Bali
yang aktif dalam membantu menjadi sukarelawan mulai
memikirkan hal apalagi yang dapat dilakukan untuk membantu
para korban bukan hanya dalam segi ekonomi dan fisik
tetapi juga dalam segi emosional dan spiritual.
Setelah terjadinya ledakkan tersebut, orang-orang mulai
menunjukkan tanda-tanda PostTraumatic Stress Disorder
(PTSD). Mereka yang tinggal di dan sekitar Kuta dianggap
memerlukan perhatian khusus, dan seiring dengan banyaknya
penderita PTSD, akhirnya menimbulkan sebuah ide untuk
mengadakan pertunjukkan wayang kulit untuk menyampaikan
informasi tentang PTSD kepada penduduk lokal.
Pada
pertengahan bulan November 2002, sebuah pertunjukkan
Wayang Kulit kontemporer tentang PTSD digelar. Sasaran
kita adalah untuk membuat pertunjukkan tersebut dalam
bentuk DVD, menayangkannya di Televisi dan sekolah-sekolah
lokal dan banjar-banjar. Sebelum video tersebut diputar,
seorang psikiater, dr. Made Nyandra atau dr. Robert
Reverger akan menjelaskan kepada penonton/peserta tentang
gejala-gejala PTSD. Kami meminta tiap-tiap peserta untuk
mengisi sebuah kuesioner dengan pilihan jawaban (ya/tidak)
terdiri dari 14 pertanyaan (terlampir) untuk menilai
tingkat PTSD yang diderita. Kami kemudian memberikan
tiap peserta sebuah brosur yang menyebutkan garis besar
dari gejala PTSD; nomer telepon IMC tercantum dalam
brosur agar mereka dapat membuat janji dengan psikiater
secara gratis.
Reaksi dari kegiatan ini sangatlah besar, baik dalam
hal bagaimana masyarakat bereaksi terhadap pertunjukkan
Wayang maupun dalam hal meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap PTSD dan bagaimana cara mengatasinya.
Sampai dengan bulan Mei 2003 melalui pertunjukkan langsung
kami sudah mencapai kira-kira 3,700 penonton dan kira-kitra
50,000 melalui televisi. Versi kedua yang sedang kami
buat adalah versi Pertunjukkan Wayang Kulit untuk anak-anak.
|