| 
Projek Rumah Jompo
oleh Nils Wetterlind dan Rucina Ballinger
Dengan jumlah penduduk lebih dari 3.000.000 jiwa, Bali hanya memiliki dua panti jompo untuk para orang lanjut usia, yang berlokasi di Denpasar, Bali selatan dan Singaraja, Bali utara. Sesuai dengan budaya masyarakat Bali pada umumnya, biasanya para orang lanjut usia ini di rawat oleh keluarga atau desa (banjar) mereka. Namun karena di akibatkan oleh ketidak mampuan secara ekonomi atau karena dibuang oleh pihak keluarga mereka atau tidak adanya dukungan dari pihak Desa ( Banjar) dan tidak ada tempat lain yang mereka bisa tuju, dapat dikatakan para orang lanjut usia ini adalah orang yang paling papa, maka dari itu mereka memilih untuk tinggal di Panti Jompo.
Sebagian besar dari penghuni baru dari Panti jompo Denpasar diantarkan oleh pihak kepolisian. Mereka menemukan para orang tua ini berjalan tak tentu arah di jalan raya, mencari makan di tempat-tempat sampah, tidur di jalanan atau mengemis. Para orang tua lanjut usia yang tidak punya rumah dan dibuang oleh keluarganya, kemudian ditampung disini dengan fasilitas, pakaian bersih, rumah tempat tinggal dan makanan tiga kali sehari. Hal ini memang terkesan lebih baik dari pada mereka tinggal di jalanan, tapi ini jauh dari kelayakan dan penghargaan yang seharusnya mereka terima sebagai orang tua.
Nils Wetterlind dari Tropical Homes prihatin akan keadaan rumah jompo di Bali. Dan ketika dia melihat langsung bagaimana keadaan rumah jompo Wana Seraya di Ketewel, dia tersentuh untuk membantu.
Hal pertama yang dilakukannya adalah menyediakan tempat tidur dan kasur yang layak bagi sekitar 50 penghuni panti jompo. Kemudian dia merobohkan bangunan yang sudah tua dan rapuh, untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat. Hal kecil seperti pegangan tangan pada dinding adalah merupakan sesuatu yang besar dan sangat membantu bagi para penghuni yang sudah tua dan renta.
Makanan yang disediakan bagi para penghuni tidak lebih dari nasi. Karena itu Tropical Homes mulai memberikan makanan tambahan setiap minggu yang berjumlah 200 kilo lebih, terdiri dari daging, ikan, dan sayur-mayur untuk memberikan dukungan gizi bagi para penghuni.
Kemudian Tropical Homes mulai merencanakan untuk bangunannya. Bangsal perawatan mendapat perhatian lebih karena kondisinya sangat menyedihkan. Atapnya bocor, temboknya berlubang, tidak ada pipa air dan pembuangan, pokoknya sangat tidak layak huni. Untuk itu mereka memutuskan untuk merenovasi bangsal ini secara keseluruhan .
Tropical Homes merasa kekurangan dana dalam melaksanakan program ini, untuk itu mereka bekerja sama dengan Rotary yang dengan sangat effisien mengambil alih, membuat budget serta mengatur penggalangan dana lebih lanjut. Bangsal perawatan telah selesai direnovasi secara keseluruhan. Empat bangunan baru telah didirikan sesuai dengan stadar kelayakan, dengan bantuan pengawasan dari Tropical Homes. Bagi para orang tua yang sudah tidak dapat lagi merawat dirinya sendiri kini telah disediakan tempat perawatan yang layak dan dilengkapi pula fasilitas yang lengkap dan lebih nyaman.
Pada Oktober 2005, YKIP mengambil alih administrasi dari sumbangan dana Tropical Homes; yang pelaksanaannya sebagai berikut:
- Adanya petugas lapangan yakni P. Hartanto, yang bekerja paruh waktu, bertugas untuk pembelian makanan tambahan dan memastikan semua penghuni merasa nyaman
- Melakukan pembelian harian; daging, ikan, sayur-mayur dan buah-buahan segar untuk menu makan siang para penghuni (berikut para pegawai)
- Membelikan obat-obatan yang diperlukan
- Membayarkan gaji dari perawat yang dipanggil jika diperlukan dan pengasuh yang bekerja tetap
- Membayar gaji pelatih gambelan. Ada sekitar 15 orang orang tua yang mengikuti kelas gambelan (6 diantaranya adalah wanita!) dan mereka mengadakan latihan dua kali seminggu.
Pada tanggal 16 November 2005, bangsal perawatan ini di pelaspasan atau diupacarai. Pemangku atau pendeta setempat memimpin upacaranya dan para ibu-ibu penghuni panti jompo, membantu memercikan air suci kesekeliling banguan baru yang juga merupakan klinik mereka yang baru. Pita peresmian bangunan kemudian di potong oleh Nils Wetterlind dari Tropical Homes yang disaksikan oleh I Nyoman Wiyoga kepala panti jompo. Group komedi Salju, tampil menghibur para penghuni, yang dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Lima belas orang penghuni yang sakit telah menempati bangsal baru mereka dan sangat senang akan fasilitas baru ini, semua ini tidak dapat terwujud tanpa bantuan dari Tropical Homes.
Telah direncanakan berbagai rencana untuk memberdayakan para penghuni di panti ini, diantaranya merencanakan kegiatan untuk para manula dengan murid-murid dari sekolah setempat sehingga para manula dapat berinteraksi dengan anak-anak muda, juga ada rencana untuk membangun warung dimana para penghuni dapat menjual hasil kegiatan mereka seperti tusuk sate, banten, dan sapu lidi.
Ada Panti Jompo satu lagi di Singaraja, Bali utara yang sangat memerlukan bantuan segera. Jika Anda tertarik untuk membantu Rumah Jompo tersebut, dapat mengirim email ke info@ykip.org.

|