Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP)
     
 
BERITA > Cerita Kami ENGLISH VERSION English Version
 
Setiap proyek kami mempunyai pemimpin lokal yang mengelola proyeknya atau menjadi partisipan dalam proyek dengan peranan yang sangat penting.
 
Berita
Cerita dari Rekan-rekan

Berikut adalah cerita mereka---bagaimana mereka melibatkan diri dengan pekerjaan social dan menjadi amat penting bagi mereka.


Mega
Pada th 19 87 saya menikah dengan orang luar Bali .Dari hasil perkawinan itu saya dikuniai 4 orang anak. Dan awalnya juga saya seorang ibu rumah tangga baik - baik yang hanya mengurus anak dan menunggu suami pulang, karena kebetulan suami saya bekerja diluar kota. Dan seiring berjalannya waktu saya mulai merasa kesepian dan akhirnya saya mulai bergaul keluar rumah. Ternyata semua temen saya pemakai Narkoba dan mereka menawarkan ke saya, pada awalnya saya menolak tapi akhirnya saya mulai coba - coba.

Pada waktu mencoba barang tersebut saya juga tidak tahu apa efek dari barang itu, setelah mencoba saya merasakan menjadi orang yang berbeda, segala masalah yang saya alami hilang. Dan akhirnya saya mulai menyalah gunakan barang tersebut, setiap hari saya harus memakai barang itu kalau saya tidak memakai saya merasa sakit yang luar biasa. Lama - lama suami saya tahu, saya memakai narkoba karena tingkah laku saya sudah berubah, saya sudah tidak peduli dengan anak dan keluarga semua barang dirumah habis saya jual. Malah uang keperluan untuk membeli susu anak saya pakai beli narkoba. Karena perubahan saya ini akhirnya suami saya coba untuk membawa saya kerumah sakit, pesantren dll Semua usaha itu jaga gagal, dan suami saya memutuskan untuk berpisah ( cerai )

Sekarang saya sudah tidak memakai Narkoba 7 bulan. Sekarang setelah saya tidak memakai Narkoba perasaan saya sangat senang dan bersyukur sama Tuhan ,saya masih dikasi kesempatan untuk merubah diri dan masih hidup. Sekarang juga saya sudah bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri ,anak ,orang tua dan pekerjaan meskipun masih sangat kecil tapi saya merasa bangga dengan kehidupan dan perubahan saya sekarang ini. Saya akan berusaha untuk menjaga apa yang saya sudah dapatkan ,dan kepercayaan orang terhadap saya.Kalau ada yang membaca cerita pengalaman hidup saya yang pahit ini ,supaya bisa lebih berhati - hati dalam memilih teman. Jangan tergoda omongan atau ajakan teman ke hal yang negative. Karena saya tidak mau generasi berikutnya sama seperti saya ,cukup saya saja yang mengalami pengalaman hidup ini.

Pada th 19 95 saya pulang keBali, pada waktu itu saya tidak tahu bahwa di Bali juga banyak sekali narkoba. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saya coba mencari kerja dari satu tempat ketempat lain. Dan ada yang menawarkan saya kerja di satu karaoke, dan saya bekerja ditempat itu. Lama - lama pergaulan saya semakin luas dan semakin banyak teman Ternyata teman - teman saya itu juga banyak sekali yang memakai Narkoba.

Saya mulai coba - coba lagi untuk memakai barang itu karena ada rasa kagen ingin memakai. Karena kangen itu saya keterusan memakai dan tidak bisa berhenti. Pada th 1997 saya harus berurusan dengan polisi karena membawa Narkoba ,saya di vonis 18 bulan didalam penjarapun saya tetap memakai karena saya memakai drugs jenis Heroin dan menggunakan jarum suntik. Saya menggunakan jarum suntik setelah didalam penjara karena keterbatasan barang dan uang. Apa efek dari penggunaan jarum suntik tersebut saya juga tidak tahu , yang saya tahu ,saya bisa makai. Keluar dari dari penjara saya bukan tambah jera tapi malah semakin menjadi.

Setelah keluar saya dari Yakeba saya mulai memakai lagi dan akhirnya juga saya harus berurusan dengan polisi. Keluar dari penjara saya berjanji mau berhenti dan tinggal di Yakeba, tapi itu semua hanya janji keinginan saya untuk makai sangat kuat sekali. Setelah saya tidak mempunyai apa - apa lagi baru saya putuskan untuk kembali masuk tempat rehabilitasi ( Yakeba )Di Yakeba saya harus menjalani program dulu selama 3 bulan , baru setelah itu saya diterima kerja.

Saya memakai terus, sampai akhirnya saaya harus berurusan dengan polisi lagi.Dan saya masuk penjara lagi .Begitu dan begitu terus kehidupan saya sampai ada teman yang mengajak saya masuk tempat rehabilitasi yaitu Yakeba. Ditempat ini saya bertahan tidak memakai selama 9 bulan.


Wayan
Sebelum saya pakai narkoba ,saya mempunyai kehidupan selayaknya orang lain sebaya saya ,saya mempunyai cita-cita dan juga harapan .saya sekolah,belajar,bermain dan juga bermasyarakat. Hubungan saya dengan keluarga ,teman dan masyarakat bisa dibilang baik - baik saja pada waktu itu.

Saya anak pertama dari tiga bersaudara dan saya juga anak lelaki satu - satunya dikeluarga, yang kelak harus bisa menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan saya dulu bisa dibilang beruntung karena saya selalu mendapatkan apa yang saya mau walau kami hidup dalam keluarga yang sederhana, hingga pada saya menginjak pendidikan di bangku SMP, saya sekolah di salah satu SMP di Denpasar, pada waktu itulah saya mengenal dunia luar dan itu membuat saya merasa asing sekaligus senang karena saya orang yang senang bergaul saya cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saya tapi salahnya saya lebih suka bergaul dengan anak-anak yang nakal karena saya merasakan hal yang baru dan asyik bila ada diantara mereka dan ternyata itu semua telah membentuk pola baru yang buruk dalam kehidupan saya.

Saya mulai belajatr merokok, belajar melawan orang tua, melawan guru dan hal-hal yang buruk lainnya, semakin hari saya semakin jauh dengan pola-pola lama saya. Saat saya kelas 3 SMP saya sudah menjadi seorang alkoholik, saya jarang dirumah, saya jarang sekolah dan saya benar-benar telah berubah. Gerak-gerik saya sudah tidak bisa lagi saya tutup tutupi, apa yang saya perbuat diluar sudah menjadi kebiasaan dirumah, semua saya lakukan dengan terang-terangan dan itu membuat orang tua sayasangat terpukul, apa yang saya cita-citakan sudah tidak penting lagi buat saya, yang saya tahu setiap hari hanya bermain dan bermain terus, minum dan ngedrugs, bohong, pulang pagi hingga seks bebas menjadi suatu kebiasan dalam keseharian saya yang silih berganti, saya sekolah sangat jarang sekali juga sangat sering minta berhenti sekolah tapi karena orang tua saya sangat ingin saya tamat sekolah mereka melakukan berbagai carademi saya bisa tetap sekolah dan ketika saya duduk dikelas 3 SMA saya mengenal suatu jenis drugs yang beda dengan yang lain (putaw) semenjak saya pake putaw saya menjadi lebih sering dirumah, jarang bergaul, sering baca layaknya orang-orang yang telah berubah hingga saya bisa menamatkan pendidikan SMA saya, dan itu membuat mata orang-orang semakin buta melihat saya, anggapan mereka saya adalah orang baru yang telah berubah dan sayapun melanjutkan pendidikan saya ke bangku kuliah, saya mulai merasakan yang namanya sakaw dan saya juga mulai mempunyai masalah dengan keuangan, semua barang barang saya saya jual mulai barang dikamar hingga baju dibadan dan itu membuat orang tua saya curiga hingga suatu saat ada surat pernyataan bahwa saya telah di DO dari kuliah saya karena tidak pernah ke kampus dan tidak pernah bayar spp, itu membuat suatu bukti bahwa apa yang saya lakukan selama ini hanya topeng untuk menutupi keburukan saya, semua telah terbongkar, apa yang telah saya lakukan mereka sudah tahu sayapun diajak ke salah satu rehabilitasi untuk berobat.

Datang dari sana bukannya sembuh malah saya semakin parah, kehidupan saya semakin tidak terkendali dan saya melakukan apa saja untuk mendapatkan barang tersebut, menjual barang-barang dirumah, bohong, menipu orang sana sini hingga orang orang mulai membenci saya, saya mulai terkucil dari keluarga teman dan masyarakat, itu bukannya membuat saya berubah tapi malah membuat saya benci diri saya sendiri dan mereka semua, saya semakin brutal, saya mulai melakukan tindak kriminal ke masyarakat luas dan setiap harinya saya hanya mencuri dan menipu teman teman saya juga. Karena orang-orang normal tidak akan mau dekat dengan saya.

Enam tahun sudah saya menjalani kehidupan seperti ini, semua sudah pernah saya rasakan, tidur di jalanan, dikeroyok massa, penjara, dan dihina orang, keluar masuk rehab dan diskriminasi menjadi renungan buat saya saat ini. Kini saya bekerja di salah satu LSM (YAKEBA) dan harapan saya bisa tetap bertahan bersih, disini juga saya merasa cocok karena semua orang orang disini sangat mendukung saya dalam pemulihan ini, hati kecil saya berkata "saya ingin berubah dan sembuh"


Dayu's story
I was born in Bedugul 31 years ago. Before I started high school in Denapsar, I went to Junior High in Baturiti village. At that time, everything was going well, my parents cared for me, I was diligent in my prayers and I was always ranked third in my class throughout my junior high school career. That alone gave me the thirst to want to attain my and my parents' goals. I got along really well with my folks. I could perform Balinese dance, I was active in the Youth Organization in our village. The people in our village respected my family a lot. This is just a small glimpse at my life before I started using drugs.

After I graduated Junior High School, I wanted to develop my talents in the tourism industry as I had watched my older sibling be able to continue his/her studies in Denpasar. My parents, after much deliberation and consideration, allowed me to go to school in Denpasar, where I studed Hotelery.

When I first stepped into High School, I was nervous but I kept at it because I was there to study and learn. In my first year, I did okay but in the second year I began to change in the way I dressed, I had a boyfriend and I loved him, and he introduced me to things I had never dreamed of. In the beginning he taught me how to smoke and drink alcohol, take tranquilizers, smoke grass and shabu-shabu (crystal meth), ecstasy and eventually to what made me an addict for almost ten years. Not only that, but this boyfriend taught me to pickpocket, steal, cheat, lie. The money I had to pay school fees I used to buy drugs. I was given a motorbike-I sold that too along with everything at home. All for drugs. It might be that there is no dignity or self respect left for those of us women who are drug addicts. When I was a teen I wanted to do things I had never done before-I had even been a small scale dealer in order to buy drugs. Time went by, I got better at hiding the fact that I was a junkie. But the fact that I was a thief became known to the police and I was thrown in jail twice in l998 and 2002 for narcotics.

In jail, for the first time I felt revenge. When I get out I want to use it again. Not that I was going to repent-that was the furthest thing from my mind. I had split up with my first boyfriend and looked for another one. He was a dealer and because at that time I was a heavy user and then I got pregnant and had a son. When he was a month old I left my husband. I was really sad but not sad enough to stop using drugs, in fact I left my son with my parents in Bedugul when he was three months old. The whle time I was in enpasar I did not think of my child or my home village. My life was the street. Day became night became day. In November 2002 I went to jail for the second time and only then did I begin to think of my future. Thinking of my son with the wayang-like eyes, I could only pray that God Alimighty would show me a way out. And would want to forgive all the sins I had committed up to then.

After I got out of jail, I went thru methadone therapy. It was not easy for me to reform myself as I was tempted from all sides. But I had the will to change my fate, especially after I got work at YAKEBA and began to give seminars at schools about the dangers of drugs so that the younger generation won't become users. My family and community are beginning to accept me back. And I want to say thank you so much to YAKEBA, especially my firens who have given me support thus far, without them I would be nothing. Thank you also to my family who have always supported me. And finally, thanks to ALMIGHTY GOD to the gifts given me.

Hopefully what I have written here can be understood. If you want to use durgs, think about it l000 more times.



 
HALAMAN UTAMA     VISI & MISI     PROYEK     BERITA     DUKUNGAN     SUMBANGAN     TENTANG KAMI     HUBUNGI KAMI     LINKS

Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) - Tel: +62 361 759544 Fax: +62 361 755024 Email: info@ykip.org